Pages

Jumat, 06 Agustus 2010

Gangguan Seksualitas (Bagian 3)



2. PARAFILIA

A. PENGERTIAN
Istilah parafilia (kelainan seksual) pertama kali disebut oleh seorang psikoterapis bernama Wilhelm Stekel dalam bukunya berjudul Sexual Abberations tahun 1925. Parafilia berasal dari bahasa Yunani, para berarti “di samping” dan philia berarti “cinta”. Parafilia (penyimpangan gairah) dalam bentuk yang sangat berat merupakan penyimpangan dari norma-norma yang secara sosial tidak dapat diterima. Kaplan (2002) mengatakan parafilia adalah gangguan seksual yang ditandai oleh khayalan seksual yang khusus dan desakan serta praktek seksual yang kuat, biasanya berulang kali dan menakutkan. Parafilia mengacu pada sekelompok gangguan yang melibatkan ketertarikan seksual terhadap obyek yang tidak biasa atau aktifitas seksual yang tidak biasa (Davidson dan Neale dalam Fausiah, 2003).
Paraphilia adalah perasaan seksual atau perilaku yang dapat melibatkan mitra seksual yang tidak manusia, tanpa izin, atau yang melibatkan penderitaan atau siksaan oleh satu atau kedua pasangan.

B. FAKTOR PENYEBAB
a) Biologis
Penelitian-penelitian yang mencoba menemukan adanya ketidaknormalan testoteron ataupun hormon-hormon lainnya sebagai penyebab paraphilia, menunjukkan hasil tidak konsisten. Artinya, kecil kemungkinan paraphilia disebabkan ketidaknormalan hormon seks pria atau hormon lainnya. Penyalahgunaan obat dan alkohol ditemukan sangat umum terjadi pada penderita paraphilia. Obat-obatan tertentu tampaknya memungkinkan penderita paraphilia melepaskan fantasi tanpa hambatan dari kesadaran.

b) Psikososial
Seperti dijelaskan Susan Noelen Hoeksema dalam bukunya Abnormal Psychology, lebih dari 90 persen penderita paraphilia adalah pria. Hal ini tampaknya berkaitan dengan penyebab paraphilia yang meliputi pelampiasan dorongan agresif atau permusuhan, yang lebih mungkin terjadi pada pria daripada wanita.
Paraphilia menurut perspektif teori perilaku merupakan hasil pengondisian klasik. Contohnya, berkembangnya bestialiti mungkin terjadi sebagai berikut: Seorang remaja laki-laki melakukan masturbasi dan memperhatikan gambar kuda di dinding. Dengan demikian mungkin berkembang keinginan untuk melakukan hubungan seks dengan kuda, dan menjadi sangat bergairah dengan fantasi demikian. Hal ini terjadi berulang-ulang dan bila fantasi tersebut berasosiasi secara kuat dengan dorongan seksualnya, mungkin ia mulai bertindak di luar fantasi dan mengembangkan bestilialiti.

c) Kultural
Lingkungan keluarga dan budaya di mana seorang anak dibesarkan ikut memengaruhi kecenderungannya mengembangkan perilaku seks menyimpang. Anak yang orangtuanya sering menggunakan hukuman fisik dan terjadi kontak seksual yang agresif, lebih mungkin menjadi agresif dan impulsif secara seksual terhadap orang lain setelah mereka berkembang dewasa.

C. CIRI-CIRI
Orang akan menunjukkan keterangsangan seksual sebagai respon yang tidak biasa. Menurut DSM IV parafilia melibatkan dorongan dan fantasi seksual yang berulang dan kuat, bertahan selama enam bulan yang berpusat pada objek, perasaan merendahkan atau menyakiti diri atau pasangannya, atau anak-anak dan orang lain yang tidak dapat atau tidak mampu memberikan persetujuan. Ciri utama :
 Khayalan atau perilaku yang merangsang seksual yang dilakukan secara berulang-ulang dan sangat kuat, yang melibatkan obyek tertentu (misalnya sepatu, baju dalam, bahan kulit atau karet)
 Menimbulkan penderitaan dan nyeri pada seseorang atau pasangannya
 Melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak menginginkannya (anak-anak, orang yang tidak berdaya atau pemerkosaan)
Biasanya mulai timbul pada akhir masa kanak-kanan atau mendekati masa pubertas dan sekali muncul biasanya akan terus menetap seumur hidup.

D. MACAM-MACAM PARAFILIA
a) Ekshibisionisme
Eksibisionisme adalah kelainan seks yang suka memperlihatkan organ kelamin kepada orang lain yang tidak ingin melihatnya. Dalam beberapa kasus, orang dengan eksibisionisme juga suka melakukan autoeroticism (praktek seksual merangsang diri sendiri atau masturbasi) sambil memperlihatkannya kepada orang lain. Secara umum, tidak ada kontak yang dilakukan dengan korban, si eksibisionisme terangsang secara seksual dengan mendapat perhatian dan mengejutkan orang lain dengan tindakannya.

Menurut PPDGJ III, Ekshibisionisme adalah :
 Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan alat kelamin kepada asing (biasanya lawan jenis kelamin) atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab.
 Ekshibisionisme hampir sama sekali terbatas pada laki-laki heteroseksual yang memamerkan pada wanita, remaja atau dewasa, biasanya menghadap mereka dalam jarak yang aman di tempat umum. Apabila yang menyaksikan itu terkejut, takut atau terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat.
 Pada beberapa penderita, ekshibisionisme merupakan satu-satunya penyaluran seksual tetapi pada penderita lainnya kebiasaan ini dilanjutkan bersamaan (simultaneously) dengan kehidupan seksual yang aktif dalam suatu jalinan hubungan yang berlangsung lama, walaupun demikian dorongan menjadi lebih kuat pada saat menghadapi konflik dalam hubungan tersebut.
 Kebanyakan penderita ekshibisionisme mendapatkan kesulitan dalam mengendalikan dorongan tersebut dan dorongan ini bersifat “ego-alien” (suatu benda asing bagi dirinya).

Penyebab Ekshibisionisme:
 Kecenderungan penderita yang kuat terhadap keyakinan bahwa masturbasi itu berdosa sehingga dengan menjadikan masturbasi sebagai bagian dari eksibisi genital, maka masturbasi bukan menjadi aktivitas tunggal;
 Orang eksibisionis biasanya mengalami perasaan rendah diri, tidak aman, inadekuat dalam relasi sosial, serta memperoleh ibu yang dominan dan sangat protektif;
 Pada umumnya, eksitasi dari khalayak tempat penderita memamerkan alat kelaminnya justru menjadi faktor penguat bagi berulangnya perilaku eksibisi tersebut.

Menurut Dr. A. Supratiknya, penyebab Ekshibisionisme :
 Akibat ketidakmatangan. Disini seseorang melakukan ekshibisionisme karena kurang informasi atau karena merasa malu, takut, rendah diri untuk mendekati lawan jenis. Ada juga yang melakukannya karena meragukan kejantanannya ditambah dengan hasrat untuk menunjukkan kejantanan dan keperkasaannya.
 Akibat dan sebagai penyaluran stres. Ini bisa menimpa seorang lelaki yang telah menikah, namun akibat situasi yang menekan di rumah tangganya terperosok ke dalam ekshibisionisme untuk membebaskan diri dari stresnya.
 Akibat bentuk psikopatologi lain.

b) Fethisisme
Orang dengan gangguan ini mencapai kepuasan seksual dengan menggunakan obyek bukan manusia, paling sering pakaian dalam perempuan, sepatu, stocking, atau item pakaian lainnya.

Menurut PPDGJ III, Fethisisme adalah :
 Mengandalkan pada beberapa benda mati (non-living object) sebgai rangsangan untuk membangkitkan keinginan seksual dan memberikan kepuasan seksual. Kebanyakan benda tersebut (objek fetish) adalah ekstensi dari tubuh manusia, seperti pakaian atau sepatu.
 Diagnosis ditegakkan apabila objek fetish benar-benar merupakan sumber yang utama dari rangsangan seksual atau penting sekali untuk respons seksual yang memuaskan.
 Fantasi fetishistic adalah lazim, tidak menjadi suatu gangguan kecuali apabila menjurus kepada suatu ritual yang begitu memaksa dan tidak semestinya sampai mengganggu hubungan seksual dan menyebabkan penderitaan bagi individu.

Penyebab fetishisme:
 Kekurangmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan pergaulan luas
 Kecenderungan individu untuk tertarik hanya pada bagian tubuh tertentu, seperti pada rambut yang hitam atau kuku yang panjang sehingga apabila penderita bertemu dengan lawan jenis yang memiliki karakter bagian tubuh yang menarik dirinya, maka akan membuat dirinya terangsang secara seksual.
 Namun, hambatan dalam penyesuaian diri mengandung unsur ketidakmampuan menjalin relasi sosial yang adekuat dengan lawan jenis yang memiliki bagian tubuh yang ia sukai.

Pengobatan Fethisisme
Ada dua kemungkinan untuk pengobatan fetisisme: terapi kognitif dan psikoanalisis, meskipun pengobatan biasanya tidak diperlukan. Terapi kognitif bertujuan untuk merubah perilaku seseorang tanpa menganalisis bagaimana dan mengapa hal tersebut muncul. Daripada memfokuskan pada asal-usul fetishes, terapi kognitif dibangun pada studi empiris dari intervensi yang mengurangi stres yang terkait dengan mereka. Terapi kognitif terutama berfokus membantu pasien dalam pikiran otomatis yang mempengaruhi suasana hati pasien dan perilaku. Sebagai pasien menjadi lebih sadar akan pikiran otomatis mereka, mereka belajar untuk mengubah pikiran irasional dan menyelesaikan kontradiksi yang mengarah ke stres. Tujuan umum dari terapi kognitif dalam pengobatan fetishes membantu pasien menyadari irasionalitas mengidentifikasi dengan fetish disukai, suatu bentuk globalisasi kognitif yang sering menyebabkan penilaian diri.

Psikoanalisis mencoba untuk mencari pengalaman traumatis yang tak sadar. Membawa tidak sadar ke keadaan sadar dan, dengan memungkinkan orang untuk bekerja keluar trauma rasional dan emosional, dapat meringankan orang dari masalah.
Ada berbagai teknik yang tersedia untuk proses menganalisis, termasuk terapi bicara, analisis mimpi, dan terapi bermain. Metode mana yang akan dipilih tergantung pada masalah itu sendiri, sikap orang tersebut dan reaksi terhadap metode tertentu dan pendidikan terapis dan preferensi.

Jenis pengobatan ini jarang digunakan. Pengobatan Berbagai obat-obatan farmasi yang tersedia yang menghambat produksi steroid seks, testosteron estrogen terutama laki-laki dan perempuan. Dengan mengurangi tingkat steroid seks, hasrat seksual berkurang. Jadi, secara teori, seseorang bisa mendapatkan kemampuan untuk mengendalikan dan proses pemikiran mereka sendiri tanpa terganggu oleh rangsangan seksual. Selain itu, aplikasi dapat memberikan bantuan orang dalam kehidupan sehari-hari, memungkinkan mereka untuk mengabaikan dan kembali ke rutinitas sehari-hari. Penelitian lain mengasumsikan bahwa mungkin fetishes seperti gangguan obsesif-kompulsif, dan telah melihat ke dalam penggunaan obat-obatan psikiatri (serotonin dan inhibitor Reuptake pemblokir dopamin) untuk mengendalikan paraphilias yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi.

c) Froteurisme
Kepuasan seksual yang diperoleh oleh seorang pria dengan menyentuh, meraba ataupun meremas bagian tubuh atau alat kelamin wanita tanpa persetujuan dari wanita. Bahkan, para korban umumnya tidak curiga dan tidak menyadarinya bila menjadi korban.
Orang dengan gangguan ini sering menggosok-gosokkan organ kelaminnya kepada orang lain yang tidak menginginkannya. Perilaku ini sering dilakukan pada saat sibuk, di tempat ramai seperti dalam bus atau di kereta yang penuh sesak.

d) Pedofilia
Pedofilia melibatkan aktivitas seksual dengan anak kecil, umumnya di bawah usia 13. DSM-IV-TR mendeskripsikan kriteria orang dengan pedofilia berusia diatas 16 tahun, dan setidaknya 5 tahun lebih tua dari si anak yang dijadikan obyek seksualnya. Orang dengan pedofilia bisa tertarik dengan anak laki-laki atau perempuan, walaupun hampir dua kali lipat ketertarikan lebih banyak pada anak laki-laki. Biasanya orang dengan gangguan ini mengembangkan prosedur dan strategi untuk mendapatkan akses dan kepercayaan anak-anak.

Menurut PPDGJ III, Pedofilia ini adalah :
 Prefensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas, baik laki-laki maupun perempuan
 Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan.
 Prefensi tersebut harus berulang dan menetap.
 Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustrasi yang khronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaannya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti.
Objek seksual pada penderita pedophilia adalah anak-anak di bawah umur. Kasus pedophilia terdiri dari dua jenis, yaitu: a) Pedophilia homoseksual, yaitu objek seksualnya adalah anak laki-laki di bawah umur. b) Pedophilia heteroseksual, yaitu objek seksualnya adalah anak perempuan di bawah umur.

Tipe-Tipe Pedofilia :
• Pedofilia yang menetap, menganggap dirinya terjebak dalam lingkungan anak, mereka jarang bergaul dengan sesama usianya tapi memiliki hubungan yang baik dengan anak.
• Pedofilia yang sifatnya regrasi, tidak tertarik pada anak lelaki, bersifat heteroseks, lebih suka pada anak perempuan (8-9 thn), mengeluhkan adanya kecemasan atau ketegangandalam perkawinan.
• Pedofilia seks lawan jenis, melibatkan anak perempuan dan menjadi teman mereka kemudian secara bertahap melibatkan anak tersebut ke dalam hubungan seksual.
• Pedofilia sesame jenis, lebih suka berhubungan seks dengan anak laki-laki atau perempuan (10-12 tahun) disbanding orang dewasa.
• Pedofilia wanita, disebabkan adanya perasaan keibuan pada wanita melibatkan anak berumur 12 tahun atau lebih muda.

Penyebab Pedofilia
Penyebabnya karena terjadi kegagalan individu saat penyesuaian diri dengan lingkungan sosial, gagal membina hubungan interpersonal. “Khusus penderita “pedofilia”, mereka pernah trauma atau kecewa dan tidak mampu coping (mengatasi) sehingga memilih mengekspresikan seksualitasnya dengan individu yang lemah dan mudah diperdaya seperti anak kecil. banyak faktor yang bisa menjadi penyebab pedofilia tersebut. Salah satunya, si penderita adalah seseorang yang mempunyai sifat introvert atau tertutup.

Penyebab pedofilia perlu dipahami dari aspek biologis, psikologis, dan sosial, yang saling terkait. Secara biologis memang belum ditemukan pola genetik yang khas pada para pedofil. Namun diyakini bahwa pedofilia disebabkan oleh tingginya hormon testosteron yang merupakan hormon seks laki-laki. Pandangan ini masuk akal mengingat 95 persen pedofil berjenis kelamin laki-laki.

Dari sudut psikologi, pengalaman masa kanak-kanak sebagai korban pedofilia ditengarai sebagai penyebab utama seseorang menjadi pedofil. Mereka belajar dengan mengamati bahwa kepuasan seksual dapat diperoleh dari anak-anak. Bisa jadi pula mereka rendah diri menyadari dirinya adalah korban pedofilia. Akibatnya mereka cenderung menutup diri dan pergaulan pun jadi terbatas. Terkait dengan hal ini, kurangnya keterampilan untuk membina hubungan akrab dengan orang lain juga menjadi salah satu penyebab pedofilia. Mereka tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang dewasa yang sebaya. Dalam kondisi ini, tidak ada yang lebih nyaman selain berinteraksi dengan anak-anak, yang mudah didekati tanpa melakukan perlawanan sebagaimana dahulu yang terjadi pada mereka.

Harga diri yang rendah juga menjadi faktor penyebab. Mereka merasa tidak memiliki kelebihan, atau merasa gagal dibandingkan pasangan atau teman-temannya. Menguasai anak, mengancam, dan memanipulasinya, merupakan suntikan bagi harga diri para pedofil. Orang yang merasa rendah diri juga mudah mengalami depresi dan kecemasan. Dalam kondisi ini, melakukan pelecehan seksual terhadap anak dijadikan cara melepaskan ketegangan.

Dari segi sosial ditemukan pelaku pedofilia kebanyakan berasal dari kalangan sosial ekonomi rendah. Sebagian bahkan tidak memiliki pekerjaan. Ditambah dengan tingkat pendidikan yang umumnya kurang memadai, mereka sulit menemukan cara penyelesaian masalah yang efektif. Akibatnya mereka mudah terkena stres dan menggunakan anak untuk mengatasi rasa tertekan atau ketegangannya akibat stres.

Penyebab pedofilia menurut Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, psi. adalah :
 Hambatan dalam perkembangan psikologis yang menyebabkan ketidakmampuan penderita menjalin relasi heterososial dan homososial yang wajar;
 Kecenderungan kepribadian antisosial yang ditandai dengan hambatan perkembangan pola seksual yang matang disertai oleh hambatan perkembangan moral;
 Terdapat kombinasi regresi, ketakutan impoten, serta rendahnya tatanan etika dan moral.

Pengobatan Pedofilia
Meskipun pedofilia belum ada obatnya, berbagai pengobatan yang tersedia yang bertujuan untuk mengurangi atau mencegah perilaku pedophilic ekspresi, mengurangi prevalensi penyalahgunaan anak. Beberapa teknik pengobatan yang diusulkan untuk pedofilia telah dikembangkan, meskipun tingkat keberhasilan terapi tersebut telah sangat rendah. Terapi perilaku kognitif ("kambuh pencegahan"), terapi perilaku kognitif telah ditunjukkan untuk mengurangi kejahatan seks residivisme.

Intervensi perilaku. perawatan perilaku sasaran gairah seksual kepada anak-anak, dengan menggunakan teknik kejenuhan dan keengganan untuk menekan gairah seksual kepada anak-anak dan sensitisasi terselubung (atau rekondisi masturbatory) & untuk meningkatkan gairah seksual orang dewasa. Perilaku perawatan tampak berpengaruh pada pola gairah seksual pada phallometric pengujian, tetapi tidak diketahui apakah perubahan tes mewakili kepentingan perubahan seksual atau perubahan kemampuan untuk mengendalikan rangsangan genital selama pengujian.

Intervensi farmakologi. Pengobatan digunakan untuk rendahnya keinginan seks di pedofilia oleh campur dengan aktivitas testosteron, seperti dengan Depo-Provera (asetat medroxyprogesterone), Androcur (asetat cyproterone), dan Lupron (asetat leuprolide). Analog gonadotropin-releasing hormon, yang terakhir lebih panjang dan memiliki efek samping yang lebih sedikit, juga efektif dalam mengurangi libido dan dapat digunakan. Perawatan ini, biasanya disebut sebagai "pengebirian kimiawi".

e) Masokisme Seksual
Masokisme adalah istilah yang digunakan untuk kelainan seksual tertentu, namun yang juga memiliki penggunaan yang lebih luas. Gangguan seksual ini melibatkan kesenangan dan kegembiraan yang diperoleh dari rasa sakit pada diri sendiri, baik yang berasal dari orang lain atau dengan diri sendiri.

Gangguan ini biasanya terjadi sejak kanak-kanak atau menginjak remaja yang sudah mulai kronis. Orang dengan gangguan ini mencapai kepuasan dengan mengalami rasa sakit. Masokisme adalah satu-satunya kelainan paraphilia yang dialami oleh perempuan, sekitar 5 persen makosis adalah perempuan.

Istilah ini berasal dari nama seorang penulis asal Austria pada abad ke-19, Leopold von Sacher-Masoch, yang novelnya sering menyebutkan karakter yang terobsesi dengan kombinasi seks dan rasa sakit.
Dalam arti lebih luas, masokisme mengacu pada pengalaman menerima kenikmatan atau kepuasan dari penderitaan sakit. Pandangan psikoanalitik bahwa masokisme adalah agresi berbalik ke dalam, ke diri, ketika seseorang merasa terlalu bersalah atau takut untuk mengungkapkannya secara lahiriah.

Penyebab Masokisme :
Pengalaman belajar yaitu mengasosiasikan rasa sakit dengan kenikmatan seksual.

f) Sadisme Seksual
Seorang individu sadisme mencapai kepuasan seksual dengan menyakiti orang lain. Dalam teori psikoanalitik, sadisme terkait dengan rasa takut pengebirian, sedangkan penjelasan perilaku sadomasokisme (praktek seksual menyimpang yang menggabungkan sadisme dan masokisme) adalah perasaan secara fisiologis mirip dengan gairah seksual. Kriteria diagnostik klinis untuk kedua gangguan ini adalah pengulangan dari perilaku selama setidaknya enam bulan, dan kesulitan yang signifikan atau penurunan kemampuan untuk berfungsi sebagai akibat dari perilaku atau terkait dorongan atau fantasi. Sadomasokisme bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, baik heteroseksual dan hubungan homoseksual.

Penyebab sadisme:
 Pada masa kanak-kanak sering mendapatkan hukuman fisik dalam pola asuh orang tuanya, kondisi tersebut menyebabkan perkembangan sikap kebencian, kemarahan, dan penolakan diri yang sangat intens yang membuat orang tersebut pada masa dewasanya memiliki kecenderungan untuk melampiaskan dendam kesumat di masa lalu. Sedangkan di saat yang bersamaan, sambil menyiksa, orang tersebut mendapatkan rangsangan seksual erotik;
 Orang sadisme biasanya memandang seks sebagai sesuatu yang penuh dosa sehingga dengan memberikan pukulan dan siksaan pada pasangan seksualnya, ia merasa dapat mengurangi dosa seksual;
 Perilaku seksual sadisme bisa menjadi bagian dari gambaran psikopatologi yang terkait dengan rendahnya kendali moral dan etika sosial.*

g) Voyeurisme
Voyeurisme adalah paraphilia di mana seseorang menemukan kenikmatan seksual dengan menyaksikan atau mengintip orang yang telanjang, membuka baju, atau melakukan seks. Gangguan ini terjadi pada laki-laki dan yang menjadi obyek biasanya orang asing. Orang dengan voyeurisme atau voyeur berfantasi melakukan hubungan seks dengan korbannya, tetapi ia tidak benar-benar melakukan itu. Voyeur mungkin mengintip orang asing yang sama berulang-ulang, tapi jarang ada kontak fisik.

Menurut PPDGJ III, voyeurisme adalah :
 Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk melihat orang yang sedang berhubungan seksual atau berperilaku intim seperti sedang menanggalkan pakaian.
 Hal ini biasanya menjurus kepada rangsangan seksual dan masturbasi, yang dilakukan tanpa orang yang diintip menyadarinya.

Penyebab Voyeurisme
 Rasa ingin tahu yang sangat mendominasi dirinya tentang aktivitas seksual.
 Penyebab voyeurism mencakup faktor psikososial Menurut teori psikoanalitik klasik dikatakan bahwa pasien penyimpangan seksual (voyeurism) dikarenakan kegagalan dalam menyelesaikan proses perkembangan normal menuju penyesuaian heteroseksual.
 Ketidak-adekuatan relasi dengan lawan jenis dan rasa ingin tahu yang sangat mendominasi dirinya tentang aktivitas seksual.
 Pernah mengalami trauma psikologis dari perlakuan jenis kelamin lain yang menambah kadar rasa kurang percaya diri.

Penanganan Voyeurisme
Penanganan yang lebih manusiawi adalah dengan terapi kognitif dan tingkah laku untuk memberikan kesadaran pada penderita agar menghilangkan kebiasaannya. Tetapi dari data yang tercatat, rata-rata penurunan frekuensi dan intensitas perilaku hanya 50% dan memerlukan waktu yang relatif lama. Penggunaan obat-obatan atau zat-zat kimia organik juga dapat dilakukan untuk mengurangi perilaku penyimpangan seksual. Zat yang digunakan biasanya adalah Depo-Provera, Androcur atau Triptorelin. Dengan terapi obat ini, ketidakstabilan hormon penderita dimanipulasi sedemikian rupa sehingga dorongan seksual yang dimilikinya menurun. Namun, meski sudah diberikan obat-obatan, secara psikologis harus tetap dilakukan perbaikan sebab obat-obatan itu hanya mempengaruhi aspek fisologis. Sedangkan aspek psikologisnya yang dianggap sebagai penyebab utama perlu ditangani secara psikologis pula.

h) Fethisisme Transvestik
Gangguan ini dicirikan dengan laki-laki heteroseksual yang mengenakan pakaian perempuan untuk mencapai respons seksual. Gangguan ini dimulai pada saat remaja dan masih diam-diam (tanpa ingin diketahui orang lain), dan kemudian saat beranjak dewasa mulai berpakaian perempuan lengkap dan di depan umum. Sebagian kecil laki-laki dengan transvestic fetisisme mungkin mengalami dysphoria (ketidakbahagiaan dengan jenis kelamin aslinya), yang kemudian melakukan pengobatan hormonal atau operasi pergantian kelamin untuk membuat mereka hidup secara permanen sebagai perempuan.

Penyebab Fethisisme :
Pengalaman belajar. Rangsangan seksual dan orgasme ditimbulkan oleh pengalaman emosional yang kuat berkaitan dengan obyek atau bagian tubuh tertentu. Pengalaman semacam itu biasanya berlangsung selama seseorang larut dalam fantasi seksual dan sambil melakukan masturbasi.

i) Parafilia yang tidak tergolongkan
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dll.
Penyebab bestially:
• Penderita didominasi oleh pikiran pola relasi seksual pada binatang;
• Refleksi ketakutan dan ketidakadekuatan dalam melakukan pendekatan terhadap jenis kelamin lain.
• Hambatan dalam kemampuan bergaul dengan lingkungan sosial pada umumnya dan jenis kelamin lain pada khususnya.

Incest adalah hubungan seks dengan sesame anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak laki-laki.
Penyebab incest :
• Incest yang terjadi secara tidak sengaja, misalnya kakak-adik lelaki-perempuan remaja yang tidur sekamar, bisa tergoda melakukan eksplorasi dan eksperimentasi seksual sampai terjadi incest.
• Incest akibat psikopatologi berat. Janis ini bisa terjadi antara ayah yang alkoholik atau psikopatik dengan anak perempuannya. Penyebabnya adalah kendornya kontrol diri akibat alcohol atau psikopati pada sang ayah.
• Incest akibat pedofilia, misalnya seorang lelaki yang haus menggauli anak-anak perempuan dibawah umur, termasuk anaknya sendiri.
• Incest akibat contoh buruk dari ayah. Seorang lelaki menjadi senang melakukan incest karena meniru ayahnya melakukan perbuatan yang sama dengan kakak atau adik perempuannya.
• Incest akibat patologi keluarga dan hubungan perkawinan yang tidak harmonis. Seorang suami-ayah yang tertekan akibat sikap memusuhi serba mendominasi dari istrinya bisa terperosok melakukan incest dengan anak perempuannya.

Necrophilia/Necrofil adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat atau orang mati.

Zoophilia adalah orang yang senang dan terangsang melihat hewan melakukan hubungan seks dengan hewan.

Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesame jenis (homo) maupun dengan perempuan.

Gerontopilia adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang pelaku jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah berusia lanjut (nenek-nenek atau kakek-kakek).

E. PREVENSI PARAFILIA
Terapi Parafilia
Karena sebagian besar parafilia ilegal, banyak orang dengan parafilia yang masuk penjara, dan diperintahkan oleh pengadilan untuk mengikuti terapi. Para pelaku kejahatan seks tersebut seringkali kurang memiliki motivasi untuk mengubah perilakunya. Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan terapis untuk meningkatkan motivasi mengikuti perawatan (Miller & Rollnick, 1991):
a. Berempati terhadap keengganan untuk mengakui bahwa ia adalah pelanggar hukum
b. Memberitahukan jenis-jenis perawatan yang dapat membantu mengontrol perilaku dengan baik dan menunjukkan efek negatif yang timbul apabila tidak dilakukan treatment.
c. Memberikan intervensi paradoksikal, dengan mengekspresian keraguan bahwa orang tersebut memiliki motivasi untuk menjalani perawatan.
d. Menjelaskan bahwa akan ada pemeriksaan psikofisiologis terhadap rangsangan seksual pasien; dengan demikian kecenderungan seksual pasien dapat diketahui tanpa harus diucapkan atau diakui oleh pasien (Garland & Dougher, 1991).
Terdapat beberapa jenis perawatan untuk parafilia, yaitu terapi psikoanalitis, behavioral, kognitif, serta biologis. Terdapat pula usaha hukum untuk melindungi masyarakat dari pelaku kejahatan seksual.

a. Terapi psikoanalitik
Pandangan psikoanalisa beranggapan bahwa parafilia berasal dari kelainan karakter, sehingga sulit untuk diberi perawatan dengan hasil yang memuaskan. Psikoanalisa belum mmberi kontribusi yang besar bagi penanganan parafilia secara efektif.

b. Teknik Behavioral
Para terapis dari aliran behavioral mencoba untuk mengembangkan prosedur terapeutik untuk mengubah aspek seksual individu. Pada awalnya, dengan pandangan bahwa parafilia merupakan ketertarikan terhadap obyek seksual yang tidak pantas, prosdur yang dilakukan adalah dengan terapi aversif. Terapi aversif dilakukan dengan memberikan kejutan fisik saat seoseorang menunjukkan perilaku yang berkaitan dengan parafilia. Metode lain, disebut satiation; seseorang diminta untuk bermasturbasi untuk waktu lama, sambil berfantasi dengan lantang. Kedua terapi tersebut, apabila digabungkan dengan terapi lai seperti pelatihan kemampuan sosial, dapat bermanfaat terhadap paedofilia, transvestisme, eksibisionisme, dan transvestisme (Brownell, Hayes, & barlow, 1977; Laws & Marshall, 1991; Marks & Gelder, 1967; Marks, Gelder, & Bancroft, 1970; Marshall & Barbaree, 1990). Cara lain yang dilakukan adalah orgasmic reorientation, yang bertujuan membuat pasien belajar untuk menjadi lebih terangsang pada stimulus seksual yang konvensional. Dalam prosedur ini pasien dihadapkan pada stimulus perangsang yang konvensional, sementara mereka memberi respon seksual terhadap rangsangan lain yang tidak konvensional. Terdapat pula teknik lain yang umum digunakan, seperti pelatihan social skills.

c. Penanganan Kognitif
Prosedur kognitif sering digunakan untuk mengubah pandangan yang terdistorsi pada individu dengan parafilia. Diberikan pula pelatihan empati agar individu memahami pengaruh perilaku mereka terhadap orang lain. Banyak program penanganan yang memberikan program pencegahan relapse, yang dibuat berdasarkan program rehabilitasi ketergantungan obat-obatan terlarang.

d. Penanganan Biologis
Intervensi biologis yang sempat banyak diberikan dua generasi yang lalu adalah dengan melakukan kastrasi atau pengangkatan testis. Baru-baru ini, penanganan biologis yang dilakukan melibatkan obat-obatan. Beberapa obat yang digunakan adalah medroxyprogesterone acetate (MPA) dan cyptoterone acetate. Kedua obat tersebut menurunkan tingkat testosteron pada laki-laki, untuk menghambat rangsangan seksual. Walaupun demikian, terdapat masalah etis dari penggunaan obat, karena pemakaian waktu yang tidak terbatas serta efek samping yang mungkin muncul dari pemakaian jangka panjang. Baru-baru ini, fluoxetine (Prozac) telah digunakan, karena obat tersebut kadang-kadang efektif untuk mengobati obsesi dan kompulsi. Karena parafilia terbentuk dari pikiran dan dorongan yang serupa dengan parafilia.

Treatment
Penyimpangan seksual tidak hanya bersangkutan dengan kepuasan seksual atau pemuasan dorongan seksual semata, akan tetapi sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri terhadap perasaan-perasaan tidak senang, ketakutan-ketakutan, kecemasan-kecemasan, dan rasa depresi yang dialami oleh seseorang. Dengan demikian diketahui bahwa penyebab gangguan seksual bukan hanya bertitik berat pada satu faktor, akan tetapi multifaktor. Artinya dalam penyembuhannya harus menggunakan beberapa metode (multidispliner dan elektis/ dipilih yang paling baik). Antara lain dengan menggunakan metode psikoanalitis, medis, treatmen behavioral, pekerjaan sosial, melalui pendekatan sosial budaya. T

reatmen-treatmen yang akan dilakukan sangat bergantung pada beberapa peristiwa di bawah ini :
 Seberapa jauh pasien menyadari akan pentingnya kesembuhan pada dirinya. Misalnya; apakah kesembuhan pada dirinya adalah murni keinginan pasien atau hanya untuk membahagiakan orang-orang di sekitar pasien.
 Motivasi yang dimiliki oleh pasien juga sangat berperan. Jika pasien enggan merubah perilaku menyimpang pada dirinya, maka akan sulit dan sangat sulit penyembuhannya.
Sikap individu yang bersangkutan terhadap tingkah laku seksual yang menyimpang. Yaitu seberapa jauh proses ego distonic (tidak senada atau bertentangan dengan ego sendiri) ataukah ego syntonic (senada, serasi dengan egonya) berlangsung pada dirinya? Sebab semakin kuat ego syntonic dan semakin terperangkap erat struktur kepribadian dan perkembangan seksual seseorang dalam kebiasaan seksual menyimpang, maka semakin kecil kemungkinan untuk sembuh.
 Treatmen ini juga tergantung pada struktur kepribadian individu yang bersangkutan. Misalnya, temramennya, kemampuan menjalin relasi interpersonal, dll.
Usia yang masih muda. Jika usia pasien sudah memasuki usia rentan, misalnya 35 tahun. Maka akan sedikit kemungkinan untuk merubahnya. Sementara untuk penyimpangan seksual yang sifatnya primer, karena terjadi akibat kerusakan pada fungsi otak, maka penyembuhan yang dilakukan dengan cara medis. Pada kondisi demikian, terjadilah proses regresi dari seksualitas yang semula normal, dengan munculnya gejala-gejala:
• Kontrol diri semakin berkurang
• Pengembangan tingkah laku seksual yang infanti
• Semakin banyak fantasi-fantasi seksual
• Terjadi awal dementia, ditmbah dengan
• Kemunculan penyakit-penyakit cerebro-vascular (pembuluh darah otak)
• Epilepsi, alkoholisme, dan penyakit cardiovascular (pembuluh darah jantung)
• Mungkin pula disertai dengan penyakit psikiatris fungsional yang serius.

Pada orang yang sangat agresif secara seksual, misalnya; kaum pedofilia habitual, para pemerkosa, psikopat, diberikan pengobatan dengan obat anti-libido, yaitu hormon estrogen. Namun pengobatan ini ada efek sampingnya yaitu mmebuat individu tersebut menjadi lebih feminin, ada proses feminasi dengan gynaccomastia (pembesaran kelenjar-kelenjar payudara pada orang laki-laki). Bisa juga diberikan obat anti-androgen, yaitu cyproterone acetate dan chlormadinone yang bisa menekan dorongan-dorongan seks yang paling mendasar.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 komentar:

Poskan Komentar